Muhammad Sinen Bukan Doraemon

Oleh: Rakyat Biasa
Dalam kehidupan nyata, tidak ada yang memiliki kantong ajaib seperti Doraemon. Sebuah kenyataan yang seharusnya dipahami publik, terutama saat membicarakan figur publik seperti Muhammad Sinen, Wali Kota Tidore Kepulauan. Sayangnya, masih ada saja narasi yang menggiring seolah-olah setiap persoalan di daerah harus langsung dituntaskan oleh satu sosok, dalam sekejap, seakan ia memiliki alat-alat ajaib seperti tokoh kartun Jepang itu.
Pernyataan “Muhammad Sinen bukan Doraemon” bukan untuk melemahkan ekspektasi masyarakat, tetapi untuk menegaskan bahwa kepemimpinan adalah proses, bukan sulap. Ia adalah manusia biasa dengan keterbatasan wewenang dan waktu, namun juga pemimpin yang terus menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Tidore.
Sering kali, harapan masyarakat yang tinggi berubah menjadi tuntutan yang tidak realistis. Ketika satu persoalan belum selesai, muncul lagi daftar panjang masalah lain, dan semuanya ditujukan kepadanya. Padahal, dalam sistem pemerintahan yang baik, penyelesaian persoalan membutuhkan kerja sama banyak pihak, bukan hanya satu orang. Muhammad Sinen bukanlah tokoh fiksi yang bisa mengeluarkan solusi instan dari kantong ajaib, melainkan pemimpin yang bekerja dalam bingkai birokrasi dan realitas politik.
Namun, justru di sinilah keistimewaannya. Alih-alih bergantung pada ilusi atau pencitraan, Muhammad Sinen memilih untuk bekerja nyata. Ia turun ke lapangan, berdialog dengan masyarakat, menghadiri berbagai agenda daerah, dan konsisten memperjuangkan aspirasi rakyatnya di ruang-ruang kebijakan. Ia bukan Doraemon—tetapi ia adalah sosok yang punya niat baik, keberanian, dan kesetiaan terhadap amanah rakyat.
Maka, alih-alih menuntutnya menjadi tokoh ajaib, mari kita dukung ikhtiar dan kerja kerasnya dengan cara yang lebih nyata pula. Kritik tetap perlu, tetapi harus berimbang. Harapan boleh tinggi, tetapi harus disertai pemahaman akan proses dan batasan dalam sistem pemerintahan yang ada.
Muhammad Sinen memang bukan Doraemon, tetapi ia telah menjadi sesuatu yang lebih penting: pemimpin yang hadir, mendengar, dan berusaha—dengan tangan kosong, tanpa kantong ajaib.






