NEWSSOSIAL

Pelajaran Dari Ahmad Ahya Alfiqih (Napiter) Untuk Kita Semua Agar Tidak Salah Jalan

Ahmad Ahya Alfiqih, warga asal Rajek, Kampung Sukatani Batu Nunggul, Tangerang Kota, mengungkapkan perjalanannya dari aktivitas kaderisasi menjelang Pemilu 2024 hingga akhirnya menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tangerang, Kabarklik.com – Ahmad Ahya Alfiqih, warga asal Rajek, Kampung Sukatani Batu Nunggul, Tangerang Kota, mengungkapkan perjalanannya dari aktivitas kaderisasi menjelang Pemilu 2024 hingga akhirnya menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam keterangannya, Ahmad mengaku sempat terlibat dalam kegiatan pelatihan dan pembentukan kader militan di wilayah Tangerang Kota. Kegiatan tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari arahan pimpinan sebagai langkah persiapan menghadapi potensi kekacauan selama Pemilu.

“Awalnya hanya untuk persiapan, kalau ada keos. Saya ditugaskan mengoordinir Tangerang Kota, bikin pelatihan dan kader-kader yang militan,” ujarnya.

Namun, aktivitas itu belakangan dinilai aparat keamanan seperti Densus 88 sebagai tindakan yang mengarah pada radikalisme dan terorisme. Menanggapi hal tersebut, Ahmad menjelaskan bahwa niatnya semata-mata untuk menegakkan syariat Islam, bukan untuk melakukan tindakan kekerasan.

“Melaksanakan ibadah sesuai syariat itu punya landasan, tapi tetap harus lihat situasi dan kondisi,” jelasnya.

Ahmad menyebut dirinya telah menyatakan ikrar setia kepada NKRI pada 9 Februari 2024. Kini, ia lebih memilih fokus memperbaiki diri dan keluarganya setelah menyadari dampak dari keterlibatannya di masa lalu.

“Kerugian besar saya adalah meninggalkan anak dan istri. Sekarang ingin fokus ke keluarga dan masyarakat,” tuturnya.

Pesan untuk Anak Muda: Jangan Taklid Buta

Kepada generasi muda, Ahmad berpesan agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan tanpa dasar yang kuat. Ia menekankan pentingnya berdiskusi dengan orang tua serta memilah kajian keagamaan agar tidak terjerumus pada paham radikalisme.

“Segala sesuatu rundingkan dengan orang tua. Jangan hanya berpikir sendiri. Pilih kajian yang tidak mengarah ke radikalisme,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya bersikap terbuka dan tidak fanatik terhadap satu pandangan saja. Menurutnya, pemahaman keagamaan harus dikomparasi dengan pandangan para ulama dari berbagai mazhab agar sesuai dengan kondisi dan tempat.

“Kita harus open mind, tidak telan mentah-mentah. Bandingkan dengan pendapat ulama besar seperti dari mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali,” pungkasnya.

Editor: Redaksi Kabarklik.com

Related Articles

Back to top button